Gaya Hidup yang Mementingkan Kepuasan Tersendiri apabila telah Mendapatkan Barang yang Diinginkan tanpa Memperhitungkan Skala Prioritas Kegunaan Disebut Apa?

Gaya hidup telah menjadi indikator penting dari identitas pribadi dan status seseorang dalam masyarakat. Cara kita berbelanja, apa yang kita beli, dan bagaimana kita menggunakan barang-barang itu seringkali mencerminkan siapa kita dan apa yang kita nilai. Salah satu pola perilaku konsumsi yang menjadi perhatian adalah pola konsumsi yang mengutamakan kepuasan pribadi seketika dari memiliki sesuatu, tanpa mempertimbangkan prioritas atau nilai praktis dari barang tersebut. Gaya hidup ini secara umum dikenal sebagai materialisme.

Materialisme: Kepuasan Tersendiri Tanpa Memperhitungkan Prioritas

Materialisme dapat didefinisikan sebagai penekanan pada kepentingan materi, khususnya acquisitiveness dan kecenderungan untuk mengukur keberhasilan dalam istilah kepemilikan materi. Orang yang materialistik cenderung berfokus pada kepemilikan fisik sebagai sumber kebahagiaan, kepuasan, dan keberhasilan dalam hidup.

Baca Juga :  Setelah Melakukan Kegiatan Olahraga, Pasti Ditutup Dengan Gerakan Apa?

Kepuasan pribadi yang diperoleh dari pembelian biasanya didasarkan pada keinginan dan tidak selalu berhubungan dengan kebutuhan atau prioritas. Misalnya, individu mungkin memiliki keinginan untuk membeli ponsel generasi terbaru, meskipun ponsel mereka saat ini masih berfungsi dengan baik dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Atau, mereka mungkin membeli tas desainer mahal meski mereka sudah memiliki banyak tas lainnya.

Materialisme tidak hanya mengacu pada kecenderungan untuk menghargai barang-barang yang mahal. Orang yang materialistik juga bisa sangat mementingkan barang-barang yang kurang mahal, asalkan mereka mendapatkan kepuasan pribadi dari kepemilikan barang tersebut.

Baca Juga :  Haley Dunphy had her sister do (A) her homeworks (B) because she wanted (C) to go to (D) Bali with Dylan and Margareth?

Dampak Materialisme

Mementingkan kepuasan pribadi dengan memperoleh barang-barang yang diinginkan tanpa mempertimbangkan skala prioritas kegunaan dapat memiliki beberapa dampak. Salah satunya, perilaku ini dapat berdampak pada kesehatan keuangan seseorang. Belanja impulsif yang tidak terkontrol bisa menyebabkan masalah keuangan dan hutang yang signifikan.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa materialisme dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis. Orang-orang yang sangat materialistik cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi, kecemasan, dan depresi. Lebih jauh, mereka juga dapat kehilangan rasa kepuasan dengan apa yang sudah mereka miliki, karena selalu mengejar lebih.

Baca Juga :  Bagi Kita Semua, Bagaimana Sikap Kita Terhadap Bentuk Kemajuan Teknologi Termasuk Teknologi Komunikasi dan Informasi?

Kesimpulan

Gaya hidup yang mementingkan kepuasan saat memperoleh barang yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan prioritas atau kegunaan adalah bentuk materialisme. Meskipun mengejar kepuasan materi bisa merasa memuaskan dalam jangka pendek, perlu untuk selalu menjaga keseimbangan dan mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Belanja yang cerdas dan bijaksana, yang mempertimbangkan baik kebutuhan dan keinginan, adalah kunci untuk pencapaian kepuasan dalam konsumsi yang sehat dan berkelanjutan.

Leave a Comment